Mengapa Mengundang Teman Non-Kristen ke Dalam Komsel Dombapa?
Menghidupi Amanat Agung dalam Komsel
Salah satu alasan utama mengundang teman non-Kristen ke dalam Komsel Dombapa adalah untuk menghidupi Amanat Agung yang diberikan oleh Yesus Kristus. Dalam Matius 28:19-20, Yesus berkata:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Amanat Agung ini adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk membawa kabar baik kepada semua orang, tanpa paksaan dan tanpa batasan. Komsel Dombapa menjadi salah satu wadah untuk mengaplikasikan perintah ini dengan cara yang alami, santai, dan relevan bagi setiap individu, termasuk mereka yang belum mengenal Kristus.
Komsel yang Ramah dan Terbuka untuk Semua
Banyak orang mungkin memiliki rasa penasaran tentang kekristenan, tetapi merasa enggan untuk datang ke gereja karena berbagai alasan, seperti perbedaan budaya, ketidaktahuan, atau bahkan pengalaman buruk dengan agama di masa lalu. Oleh karena itu, Komsel Dombapa dirancang agar menjadi tempat yang terbuka, ramah, dan tidak mengintimidasi, di mana siapa pun dapat bergabung, berdiskusi, dan belajar bersama tanpa tekanan.
Mengapa Tidak Ada Sesi Nyanyian Pujian dan Penyembahan?
Format Komsel Dombapa tidak memiliki sesi nyanyian pujian dan penyembahan karena beberapa alasan penting:
- Menghindari Hambatan bagi Non-Kristen – Tidak semua orang familiar atau nyaman dengan pujian dan penyembahan dalam konteks Kristen. Dengan menghilangkan sesi ini, kita menghilangkan potensi ketidaknyamanan bagi mereka yang baru pertama kali bergabung.
- Fokus pada Diskusi yang Relevan – Komsel ini lebih menekankan pada percakapan yang membangun, refleksi pribadi, dan penerapan nilai-nilai kehidupan, sehingga peserta dapat lebih mudah memahami prinsip-prinsip kebenaran tanpa harus melewati pengalaman yang mungkin asing bagi mereka.
- Menjadikan Komsel sebagai Tempat Dialog – Dengan format yang lebih fleksibel dan berbasis diskusi, semua peserta, baik Kristen maupun non-Kristen, merasa dihargai dan diberikan kesempatan untuk berbagi perspektif mereka.
Menjadi Garam dan Terang dalam Kehidupan Sehari-hari
Yesus mengajarkan dalam Matius 5:16:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Komsel Dombapa bukan hanya sekadar pertemuan rutin, tetapi juga sebuah gaya hidup yang mencerminkan kasih Kristus dalam keseharian. Melalui interaksi yang tulus, diskusi yang bermakna, dan dukungan yang nyata, kita dapat menunjukkan kasih Tuhan tanpa harus memaksakan keyakinan kita kepada orang lain.
Kesimpulan
Mengundang teman non-Kristen ke dalam Komsel Dombapa adalah bagian dari Amanat Agung, tetapi dilakukan dengan cara yang ramah, relevan, dan tidak memaksa. Dengan format yang tidak kaku dan tanpa sesi nyanyian, komsel ini menjadi tempat yang lebih mudah diakses oleh siapa saja, sehingga pesan kasih dan harapan bisa dibagikan kepada lebih banyak orang. Pada akhirnya, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia—bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan, persahabatan, dan kasih yang nyata.