| |

Kenapa Dalam Sesi Diskusi, Sharing, Atau Kesaksian Tidak Semua Peserta Harus Berbicara?

Dalam Komsel Dombapa, sesi diskusi, sharing, atau kesaksian adalah bagian penting dari persekutuan. Namun, jika semua peserta diharuskan berbicara, terutama dalam kelompok besar, waktu bisa habis terlalu lama dan efeknya bisa menjadi negatif bagi beberapa peserta.

Meskipun mendengarkan pengalaman dan pendapat orang lain bisa bermanfaat, tidak semua peserta harus dipaksa berbicara dalam setiap sesi. Ada beberapa alasan penting mengapa diskusi atau sharing sebaiknya dibatasi pada beberapa orang saja, terutama dalam kelompok besar.

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” (1 Korintus 14:40)


1. Membatasi Waktu Agar Diskusi Tetap Efektif

Semakin banyak peserta dalam komsel, semakin lama waktu yang dibutuhkan jika semua diharuskan berbicara. Jika setiap orang diberi waktu 3-5 menit untuk berbagi, maka dalam kelompok dengan 15-20 orang saja, diskusi bisa memakan waktu lebih dari 1 jam!

Dampak negatif jika semua peserta berbicara:

  • Diskusi menjadi terlalu panjang dan membosankan.
  • Inti pembelajaran bisa hilang karena terlalu banyak pendapat yang bercampur.
  • Peserta yang sibuk atau memiliki keterbatasan waktu bisa merasa tidak nyaman dan mungkin tidak mau datang lagi.

Persekutuan yang baik bukan hanya soal memberi kesempatan berbicara, tetapi juga tentang mengatur waktu dengan baik agar semua bisa mendapatkan manfaatnya.


2. Menghindari Tekanan bagi Peserta yang Masih “Bayi Rohani”

Peserta yang masih baru dalam iman atau belum terbiasa berbicara dalam kelompok bisa merasa tertekan jika mereka diharuskan untuk berbicara atau memberikan kesaksian.

Dampak negatif bagi bayi rohani:

  • Mereka bisa merasa canggung atau takut berbicara, sehingga mereka malah tidak nyaman datang ke komsel berikutnya.
  • Jika mereka belum memiliki pengalaman iman yang kuat, mereka bisa merasa rendah diri dibanding peserta lain yang lebih berpengalaman.
  • Mereka bisa membuat kesimpulan yang salah, misalnya berpikir bahwa iman Kristen hanya tentang “berbicara di depan umum” dan bukan tentang membangun hubungan dengan Tuhan.

Orang yang masih bayi rohani perlu waktu untuk bertumbuh, bukan dipaksa untuk berbicara sebelum mereka siap.


3. Memberikan Ruang bagi yang Sedang Lemah Rohani

Tidak semua peserta selalu dalam kondisi iman yang kuat. Ada yang datang ke komsel justru karena sedang mengalami pergumulan, kekecewaan, atau kebingungan dalam iman mereka.

Dampak negatif bagi yang sedang lemah iman:

  • Jika mereka dipaksa untuk berbicara, mereka bisa merasa tidak siap atau malah semakin tertekan.
  • Jika mereka melihat orang lain berbagi pengalaman iman yang luar biasa, mereka bisa merasa kecil atau jauh dari Tuhan, padahal mereka sedang butuh pemulihan.
  • Ada risiko mereka memberikan kesaksian yang terlalu emosional atau negatif, yang bisa berdampak kurang baik bagi peserta lain.

Orang yang sedang lemah iman lebih membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk mendengar firman daripada dipaksa berbicara.


4. Mempermudah Non-Kristen untuk Mengikuti Komsel Tanpa Rasa Canggung

Komsel Dombapa terbuka untuk peserta non-Kristen, sehingga format acara harus dibuat nyaman bagi mereka. Jika mereka langsung diminta berbicara atau memberikan pendapat, mereka bisa merasa tidak nyaman.

Dampak negatif bagi peserta non-Kristen:

  • Mereka bisa merasa terintimidasi jika harus berbicara dalam kelompok yang sudah memahami Alkitab.
  • Mereka bisa merasa seperti outsider jika tidak memiliki pengalaman pribadi dalam iman Kristen.
  • Mereka mungkin datang untuk mendengar dan belajar dulu, bukan untuk langsung berbicara.

Non-Kristen lebih mudah menerima firman jika mereka diberi kesempatan untuk mendengar terlebih dahulu sebelum berbicara.


5. Menjaga Fokus Diskusi agar Tidak Melebar ke Topik yang Tidak Relevan

Jika semua orang diberikan waktu berbicara tanpa batasan, diskusi bisa melebar ke hal-hal yang tidak relevan. Ada kemungkinan peserta menceritakan pengalaman pribadi yang terlalu panjang, membahas topik yang tidak berkaitan dengan firman, atau bahkan masuk ke dalam perdebatan yang tidak perlu.

Dampak negatif jika diskusi tidak terarah:

  • Topik utama bisa terlupakan, sehingga tujuan komsel tidak tercapai.
  • Peserta bisa merasa bosan karena diskusi tidak jelas arahnya.
  • Orang yang berbicara terlalu panjang bisa tanpa sadar mendominasi diskusi, membuat yang lain kehilangan kesempatan berbagi.

Penting untuk memastikan bahwa diskusi tetap singkat, jelas, dan tetap berpusat pada firman Tuhan.


Bagaimana Cara Mengatur Diskusi dan Sharing yang Efektif?

Agar komsel tetap berjalan lancar dan tidak membebani peserta, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Pilih beberapa orang saja untuk berbagi dalam setiap sesi.
Gunakan batas waktu untuk setiap pembicara, misalnya 2-3 menit saja.
Moderator harus tegas dalam mengarahkan diskusi agar tidak melebar.
Beri kesempatan kepada yang ingin berbicara, tetapi jangan memaksa yang belum siap.
Gunakan sesi tanya jawab setelah diskusi utama, sehingga yang ingin berbagi bisa melakukannya di bagian akhir.

Dengan cara ini, semua orang tetap mendapat manfaat dari diskusi tanpa harus merasa tertekan atau bosan.


Kesimpulan

Dalam Komsel Dombapa, diskusi, sharing, dan kesaksian harus tetap terarah, efektif, dan tidak terlalu panjang. Tidak semua peserta harus berbicara dalam setiap sesi, karena hal ini bisa berdampak negatif bagi peserta yang masih bayi rohani, yang sedang lemah iman, atau yang non-Kristen.

Dengan membatasi jumlah pembicara dan menjaga diskusi tetap fokus, komsel akan menjadi lebih menyenangkan, membangun, dan nyaman bagi semua orang. Mari kita terus belajar untuk menghargai waktu dan kebutuhan setiap peserta agar Komsel Dombapa bisa menjadi berkat bagi banyak orang! ⏳✨

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *